NEW YORK — Di tengah eskalasi konflik terbuka antara Tehran dengan Washington serta sekutunya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berdiri di tribun Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (24/9), dalam pidato pertamanya sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap negaranya. Pidato itu digelar hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras di podium yang sama.
Kehadiran Pezeshkian ke New York sendiri sudah menjadi bahan perdebatan sejak awal. Delegasi Iran datang dengan tekanan diplomatik yang berlipat ganda: sanksi yang menyesakkan, infrastruktur nuklir yang terus dipantau, dan jalur komunikasi dengan Barat yang nyaris putus. Namun, dalam atmosfer yang penuh ancaman tersebut, pesan utama yang dibawa Pezeshkian justru berlawanan arah dengan nada Trump sehari sebelumnya.
Sehari Sebelumnya: Ancaman "Menghapuskan" Iran
Pada Selasa, Presiden Trump memberikan pernyataan yang tergolong langka dalam sejarah pidato PBB. Kepada majelis yang dipenuhi para kepala negara dan menteri luar negeri itu, ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat "menghapuskan Republik Islam Iran" dan "mendorong mereka ke neraka".
"Kami memiliki kekuatan untuk menghapuskan Republik Islam Iran, dan jika perlu, kami akan menggunakannya," ujar Trump, menggetarkan ruang sidang yang selama ini menjadi panggung retorika diplomasi.
Pernyataan tersebut langsung menuai kritik dari sejumlah negara anggota, terutama dari blok negara non-blok dan negara-negara Timur Tengah yang menilainya sebagai eskalasi retorika yang berbahaya di tengah konflik bersenjata yang sudah menewaskan warga sipil di kedua belah pihak.
Jawaban Tehran dari Tribun PBB
Pezeshkian, yang tampil dengan nada lebih terukur namun tetap tegas, menolak framing bahwa Iran berada dalam posisi terpojok. Ia menegaskan bahwa Tehran tidak pernah memulai konflik, namun juga tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun sanksi ekonomi.
"Iran bukan ancaman bagi dunia. Yang mengancam perdamaian adalah kebijakan mereka yang menggunakan kekuatan senjata untuk menundukkan bangsa lain," kata Pezeshkian dalam pidatonya berbahasa Persia yang diterjemahkan secara simultan.
Ia juga menyerukan agar masyarakat internasional tidak lagi membiarkan satu negara menentukan nasib bangsa lain melalui ancaman penghancuran. Menurut Pezeshkian, momen di PBB kali ini bukan sekadar panggung diplomasi, melainkan uji kejujuran bagi sistem internasional yang sejak lama mengklaim berdiri di atas hukum dan kesetaraan.
Respons Dunia dan Tantangan ke Depan
Para analis menilai pidato kedua pemimpin itu menandai babak baru dalam hubungan AS-Iran yang kembali memanas. Beberapa poin kunci yang perlu dicermati publik internasional:
- Ancaman langsung AS: Trump mengancam "penghapusan" Republik Islam Iran di forum PBB.
- Penolakan Iran: Pezeshkian menegaskan Iran korban agresi, bukan pemicu konflik.
- Desakan global: Sejumlah negara meminta PBB menjadi mediasi, bukan arena ancaman.
- Risiko eskalasi: Konflik militer AS-Israel-Iran berpotensi meluas ke kawasan Timur Tengah.
Di luar pidato, perhatian dunia kini tertuju pada langkah konkret: apakah jalur diplomasi masih mungkin dibuka, atau apakah ancaman Trump akan diterjemahkan menjadi aksi militer lanjutan. PBB, yang dalam sejarahnya pernah menjadi penengah perang dingin, kini menghadapi tantangan paling serius — memastikan tribunnya tidak berubah menjadi panggung perang verbal yang berujung perang sungguhan.
Comments (0)