Sep 01, 2026
Business

Program Magang Inggris Janjikan Karier Tanpa Utang Piutang

Krisis lapangan kerja pemuda di Inggris semakin memburuk dengan hampir satu juta anak muda berstatus Neet (tidak dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatiha

Program Magang Inggris Janjikan Karier Tanpa Utang Piutang

Krisis lapangan kerja pemuda di Inggris semakin memburuk dengan hampir satu juta anak muda berstatus Neet (tidak dalam pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan). Di tengah situasi ini, program magang dan pendidikan vokasi menjadi harapan baru bagi generasi muda untuk memasuki dunia kerja secara langsung tanpa harus menanggung beban utang kuliah.

Pemerintah Inggris berencana memperkuat fokus pada pembelajaran teknis dan vokasi di negara tersebut sejak usia 14 tahun. Niat ini sejalan dengan ambisi menciptakan ribuan peluang magang baru untuk kaum muda. Menteri Tenaga Kerja dan Pensiun, Pat McFadden, bahkan mengumumkan program beasiswa baru untuk memastikan keluarga tidak mengalami kerugian finansial jika anak mereka memulai program magang.

Kisah Para Magang: Keuntungan dan Tantangan

Data dari National Foundation for Educational Research (NFER) mengungkapkan temuan penting bahwa siswa berlatar belakang ras campuran, dari keluarga kurang mampu, dan mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa tambahan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menyelesaikan program magang mereka. Temuan ini menyoroti perlunya dukungan lebih besar bagi kelompok rentan dalam sistem pendidikan vokasi.

Beberapa peserta magang berbagi pengalaman mereka tentang manfaat dan jebakan pelatihan vokasi. Ellen, 24 tahun dari Worcester, memilih jalur magang daripada kuliah meskipun sekolahnya tidak pernah menyarankan opsi tersebut. "Hanya diasumsikan bahwa kuliah akan menjadi jalan yang saya tempuh," ujarnya. Setelah banyak penolakan, ia akhirnya mendapat tempat di konsultansi MEP (mekanik, listrik, dan plumbing) berukuran sedang.

"Ini adalah kurva pembelajaran yang sangat besar dan saya harus meminta bantuan tambahan dari guru-guru saya. Pada usia 18 tahun, dilempar ke laut dalam, Anda hanya ingin melakukan yang terbaik."

Magang tiga tahun Ellen melibatkan empat hari kerja dan satu hari kuliah untuk studi Higher National Certificate (HNC). Meskipun ia berhasil meraih BTec level 4 HNC serta sertifikasi CIBSE dan Engineering Council, Ellen mengakui kesulitan menyeimbangkan pekerjaan, studi, dan kehidupan sosial.

"Semua teman saya memilih kuliah dan tersebar di seluruh negeri, dan tidak ada orang seusia saya di tempat kerja sehingga memiliki kehidupan sosial sangat sulit," ungkapnya. Selain itu, Ellen juga menghadapi kurangnya peran model wanita dalam industri konstruksi tempat ia bekerja.

Magang sebagai Jalur Karier yang Layak

Harry, 26 tahun, pekerja mesin, merasa bersyukur memiliki pekerjaan melalui jalur magang. Ia melihat teman-temannya yang kuliah mulai mempertanyakan keputusan mereka. "Beberapa memang membutuhkan kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka miliki sekarang, tetapi beberapa di antaranya saya rasa tidak membutuhkannya, dan mereka mulai menyadari hal itu," katanya.

Setelah meraih tiga A-level, Harry sempat mempertimbangkan kuliah bisnis namun urung karena biaya yang mahal. Ia kemudian mengetahui program magang melalui ayahnya yang pernah menjalani magang tukang listrik pada akhir 1980-an. Harry mengikuti program magang level 3 teknisi mesin teknik selama empat tahun yang dimulai pada 2020.

"Sementara saya di perguruan tinggi, saya memastikan bahwa semua waktu yang saya habiskan di sana, saya melakukan sebanyak mungkin pekerjaan karena saya secara efektif dibayar untuk belajar."

Pada akhir magangnya, Harry meraih kualifikasi teknisi mesin level 3. Meskipun programnya menjamin pekerjaan jika lulus, ia memilih perusahaan lain dengan gaji lebih baik. "Saya bersyukur memiliki pekerjaan. Orang-orang seharusnya lulus kuliah dan menemukan karier, tetapi saya rasa banyak dari mereka tidak bisa melakukannya," tambahnya.

Tantangan Dukungan dan Kesiapan Kerja

Hannah, pekerja logam berusia 30-an, menyebut pengalaman magangnya luar biasa, namun ia menyaksikan bagaimana orang lain berjuang dan gagal menyelesaikan program karena kurangnya dukungan. "Pekerjaan itu cocok untuk saya, dan saya menerima banyak pujian setelah lama menganggur dan memiliki kepercayaan diri rendah," ujarnya.

Hannah yang dropout dari sekolah pada usia 14 tahun menghabiskan waktu lama dalam kategori Neet sebelum akhirnya mengikuti program magang. Ia mengakui ada kekurangan dalam materi dan penyampaian kursus, terutama di kelas bahasa Inggris fungsional.

"Saya pikir magang bisa luar biasa, tetapi ini bukan obat mujarab untuk pengangguran. Ada banyak niat baik untuk mencoba menggunakan program magang untuk membantu orang-orang yang mungkin pernah seperti saya, meskipun saya juga sangat beruntung memiliki keluarga yang mendukung."

Hannah menyaksikan beberapa orang, terutama yang lebih muda, tidak siap memasuki dunia kerja. Beberapa di antaranya memiliki masalah emosional yang kompleks atau latar belakang yang sulit, yang membuat mereka semakin kesulitan. Ia menekankan perlunya dukungan bimbingan yang lebih baik untuk peserta magang.

Magang dengan Gelar: Kombinasi Ideal

Jotham, 24 tahun dari Buckinghamshire, menjalani program magang gelar tiga tahun sebagai rute teraman untuk mendapatkan pekerjaan. Ia mendaftar ke sekitar 20-30 program magang dan memilih skema yang melibatkan satu hari kuliah per minggu di universitas London.

Jotham meraih gelar pertama dalam magang solusi teknologi digital BSc. Meskipun tidak ada jaminan pekerjaan di akhir kursus, ia terus bekerja di perusahaan yang sama dan ditawari posisi permanen.

"Ini opsi yang sangat praktis, bukan? Ini memiliki semua keunggulan kuliah tanpa kekurangannya. Tidak memiliki utang sangat membebaskan."

Namun, Jotham juga mengetahui beberapa magang yang kurang beruntung. Salah satunya harus berhenti setahun karena perusahaan kolaps. "Yang lain harus berhenti total atau mengubah cara mereka menjalani kursus karena perusahaan tidak mampu mempekerjakan mereka selama tiga tahun penuh," tambahnya. Kini Jotham bekerja di manajemen basis data.

Pelajaran untuk Masa Depan Pendidikan Vokasi

Pengalaman para magang ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dan program magang memiliki potensi besar sebagai jalur karier alternatif yang layak. Keuntungan utamanya meliputi pengalaman kerja langsung, penghasilan selama belajar, dan kualifikasi profesional tanpa beban utang kuliah.

Namun, beberapa tantangan kritis masih perlu diatasi. Dukungan yang memadai bagi peserta magang, terutama dari latar belakang rentan, sangat penting untuk keberhasilan program. Selain itu, masalah kesiapan emosional dan sosial beberapa peserta menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam pelatihan vokasi.

Dengan hampir satu juta anak muda Inggris dalam status Neet, program magang menawarkan solusi praktis untuk mengatasi krisis lapangan kerja pemuda. Pemerintah perlu memastikan bahwa ribuan peluang magang baru yang direncanakan disertai dengan sistem dukungan yang kuat agar semua peserta, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang adil untuk berhasil.

• 1 juta anak muda berstatus Neet • Magang = kerja + kuliah + gaji • Tanpa utang kuliah • Tantangan: dukungan dan kesiapan kerja Baca selengkapnya ⬇️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User

Popular Posts

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll