BERITA DUA INTERNATIONAL — Gelombang kebangkrutan yang menimpa sejumlah penyedia hunian mahasiswa kelas atas di Inggris memicu kepanikan di kalangan pelajar internasional. Kondisi ini diperparah oleh krisis biaya hidup yang berkepanjangan serta anjloknya jumlah mahasiswa asing yang masuk ke negara itu, menciptakan badai sempurna yang menghantam pasar akomodasi khusus mahasiswa atau purpose-built student accommodation (PBSA).
Kisah Nathalie Sriwiboonrattan menjadi potret kelam di balik krisis ini. Mahasiswa tahun keempat jurusan desain gim di Abertay University itu tengah berada di rumah keluarganya di Thailand—ribuan mil dari Skotlandia—ketika mendapat kabar bahwa pemilik studio flat yang ia sewa mendadak bangkrut. Kepanikan pun tak terhindarkan. Ia harus bergerak cepat demi mengamankan tempat tinggal baru untuk tahun akademik yang baru saja dimulai, dengan konsekuensi menggelontorkan dana hingga £850 atau sekitar Rp17,3 juta hanya untuk memindahkan barang-barangnya.
“Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak berada di negara itu. Tangan saya terikat,” ujar Nathalie, mengenang momen pahit tersebut.
Kronologi Runtuhnya Rantai Pasar Hunian Mahasiswa
Runtuhnya penyedia hunian mahal ini bukan peristiwa tunggal, melainkan puncak dari tekanan struktural yang menumpuk selama beberapa tahun terakhir. Berikut urutan kejadian yang melatarbelakangi krisis tersebut:
- Krisis biaya hidup melanda Inggris. Inflasi yang melonjak membuat biaya operasional properti mewah melambung, sementara daya beli mahasiswa justru menurun tajam.
- Penurunan drastis mahasiswa internasional. Kebijakan imigrasi yang diperketat dan perubahan geopolitik mengurangi jumlah pendaftar dari luar negeri, memukul pendapatan penyedia akomodasi.
- Kelebihan pasokan properti premium. Banyak pengembang membangun unit studio dan apartemen mewah tanpa memperhitungkan perubahan permintaan pasar.
- Kebangkrutan mendadak sejumlah operator. Pemilik studio tempat Nathalie tinggal menjadi salah satu korban pertama yang kolaps tanpa peringatan.
- Mahasiswa terjebak di tengah ketidakpastian. Ribuan pelajar, terutama yang berada di luar negeri, harus mencari hunian baru dalam waktu singkat dengan biaya tambahan besar.
Dampak Bagi Mahasiswa Internasional
Anjloknya penyedia hunian kelas atas ini memunculkan ironi tersendiri. Alih-alih memberikan kenyamanan dan keamanan, akomodasi mahal justru berubah menjadi sumber risiko finansial. Mahasiswa yang telah membayar uang muka besar terancam kehilangan deposit, sementara proses hukum untuk menuntut ganti rugi sangat rumit dan memakan waktu.
Nathalie bukanlah satu-satunya korban. Sejumlah mahasiswa lain dilaporkan mengalami nasib serupa di berbagai kota di Skotlandia dan Inggris utara. Mereka terpaksa menumpang di sofa teman, menyewa kamar darurat dengan harga lebih tinggi, atau menunda kedatangan ke kampus karena belum mendapatkan tempat tinggal.
- Kerugian finansial langsung: biaya relokasi, deposit hangus, dan sewa darurat yang lebih mahal.
- Tekanan psikologis: kecemasan akut di tengah tuntutan akademik yang sudah berat.
- Ketidakpastian hukum: status mahasiswa internasional yang rentan terhadap pelanggaran visa jika alamat tempat tinggal berubah.
Peringatan Bagi Calon Mahasiswa Asing
Pengamat pendidikan tinggi menilai situasi ini menjadi sinyal bahaya bagi calon mahasiswa internasional. Mereka diminta lebih berhati-hati dalam memilih penyedia akomodasi, memeriksa rekam jejak keuangan operator, dan memastikan adanya jaminan perlindungan konsumen sebelum menandatangani kontrak sewa jangka panjang.
Pemerintah Skotlandia sendiri tengah menghadapi tekanan untuk turun tangan. Regulasi yang lebih ketat terhadap penyedia akomodasi mahasiswa dianggap mendesak agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan ribuan pelajar yang telah menaruh harapan besar pada pendidikan di Inggris.
Bagi Nathalie, tahun akademik baru dimulai dengan luka finansial dan emosional. Namun ia bersyukur masih bisa melanjutkan studi. “Saya hanya berharap tidak ada mahasiswa lain yang harus mengalami hal ini,” pungkasnya.
Comments (0)