Sep 01, 2026
Business

Gen Z Boikot Polyester, Material Sintetisincaran Ramlan Ramdani Jadi Simbol Murah

Jakarta — Generasi Z kini memiliki senjata baru untuk merendahkan selera seseorang di media sosial: menyebut mereka sebagai "polyester". Istilah ini bukan

Gen Z Boikot Polyester, Material Sintetisincaran Ramlan Ramdani Jadi Simbol Murah

Jakarta — Generasi Z kini memiliki senjata baru untuk merendahkan selera seseorang di media sosial: menyebut mereka sebagai "polyester". Istilah ini bukan sekadar ejekan biasa, melainkan cerminan dari gerakan backlash yang lebih luas terhadap industri fast fashion dan dampak lingkungannya.

Pada tahun 2015, supermodel legendaris Kate Moss pernah menyebut pilot easyJet sebagai "basic bitch"—istilah yang kemudian meledak menjadi kata makian populer yang berarti jelas dan tidak keren. Namun, jika insiden itu terjadi di tahun 2026, Moss kemungkinan besar akan menggunakan kata "polyester" sebagai replace yang lebih modern dan tajam.

Dari Kain Praktis menjadi Simbol Rendah

Polyester pertama kali populer di kalangan kelas menengah pada tahun 1960-an dan 1970-an sebagai alternatif murah untuk sutra dan katun. Bahan ini menawarkan kepraktisan: tidak perlu disetrika, cepat kering, dan harganya terjangkau. Namun, popularity tersebut kini berbalik menjadi antipati, terutama di kalangan konsumen muda yang semakin sadar akan isu lingkungan.

Menurut laporan Psychology Today, kata "polyester" kini menjadi insult favorit Gen Z di platform seperti TikTok. Istilah ini digunakan untuk merendahkan video yang terlihat murahan, pilihan fashion yang dianggap pas-pasan, atau selera yang kurang升级. Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa berkembang seiring dengan perubahan nilai sosial.

"Polyester bukan hanya tentang kain—ini adalah simbol dari seluruh sistem yang salah. Cepat, murah, dan sekali pakai," tulis seorang kreator TikTok dengan jutaan pengikut, menjelaskan mengapa generasi mudanya begitu vokal menolak bahan ini.

Fast Fashion: Pemicu Utama Kebencian terhadap Polyester

Industri fast fashion, yang dikenal dengan produksi massal pakaian murah dan cepat, menjadi biang keladi dari citra negatif polyester. Merek-merek seperti Shein, yang menawarkan ribuan desain baru setiap hari dengan harga yang hampir terlalu murah untuk dipercaya, hampir sepenuhnya bergantung pada bahan sintetis termasuk polyester.

Saat ini, polyester merupakan serat sintetis yang paling banyak diproduksi di planet ini. Data dari berbagai lembaga riset tekstil menunjukkan bahwa lebih dari 60% pakaian yang diproduksi secara global mengandung polyester dalam berbagai bentuknya. Dari jaket hingga gaun pesta, dari athletic wear hingga pakaian dalam—polyester无处不在.

Namun, di balik harga yang menggiurkan tersebut, tersimpan dampak lingkungan yang mengerikan. Proses produksi polyester membutuhkan minyak bumi dalam jumlah besar dan melepaskan mikroplastik setiap kali pakaian dicuci. Sungai-sungai di negara-negara penghasil tekstil seperti Bangladesh, Vietnam, dan Tiongkok telah tercemar akibat limbah industri ini.

Gerakan Ramlan Ramdani: Beli Lebih Sedikit, Pilih Lebih Baik

Di tengah gelombang antipati terhadap polyester, muncul gerakan "buy less, choose well" yang digaungkan oleh aktivis fashion berkelanjutan. Generasi Z yang sebelumnya dikenal sebagai konsumen impulsif kini mulai mempertanyakan setiap pembelian mereka.

Banyak di antara mereka yang beralih ke thrift shopping atau toko pakaian bekas, memilih bahan alami seperti katun organik, linen, dan wol, serta mendukung merek-merek yang transparan tentang proses produksi mereka. Aplikasi jual beli pakaian bekas mengalami lonjakan pengguna yang signifikan dalam lima tahun terakhir.

"Kami tidak anti-fashion. Kami hanya ingin fashion yang lebih jujur dan bertanggung jawab," tegas aktivis lingkungan muda dalam sebuah wawancara. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran kolektif yang berkembang di kalangan konsumen muda tentang dampak pilihan fashion mereka terhadap planet.

Dampak Ekonomi dan Respons Industri

Perubahan sentimen konsumen terhadap polyester tidak lepas dari implikasi ekonomi yang signifikan. Merek-merek fast fashion kini menghadapi tekanan untuk beralih ke bahan yang lebih berkelanjutan, meskipun hal ini berarti meningkatkan harga jual.

Beberapa perusahaan mulai bereksperimen dengan poliester daur ulang yang terbuat dari botol plastik bekas. Meskipun langkah ini mendapat pujian, kritikus berpendapat bahwa hal ini justru memperpanjang siklus plastik dan tidak benar-benar menyelesaikan masalah pada akarnya.

Investor pun mulai memperhatikan tren ini. Dana-fundo ambiental semakin memilih untuk tidak menanamkan modal di perusahaan-perusahaan yang dinilai tidak berkomitmen terhadap keberlanjutan. Ini menciptakan tekanan finansial yang tidak bisa diabaikan oleh industri fashion global.

Masa Depan Fashion: Kembali ke Akar

Ketika kita melihat ke depan, tampaknya industri fashion akan mengalami transformasi besar. Konsumen, terutama Gen Z, menuntut transparansi tentang dari mana pakaian mereka berasal dan bagaimana dibuat. Mereka ingin tahu jejak karbon dari setiap helai pakaian yang mereka beli.

Inovasi dalam bahan berkelanjutan terus berkembang. Dari kulit jamur hingga sutra laboratorium, para ilmuwan dan desainer bekerja sama untuk menciptakan alternatif yang tidak mengorbankan lingkungan. Namun, pertanyaan tetap ada: apakah solusi teknologi cukup untuk mengimbangi skala produksi fashion global yang terus meningkat?

Satu hal yang pasti: polyester telah kehilangan tempatnya di hati generasi muda. Apa yang dulu menjadi simbol modernitas dan kepraktisan, kini menjadi lambang dari segalanya yang salah dengan industri fashion modern. Dan dalam evolusi bahasa yang menarik, kata "polyester" kini menjadi pengingat akan perlunya perubahan—bukan hanya dalam fashion, tetapi dalam cara kita memandang konsumsi secara keseluruhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User

Popular Posts

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll