Sep 02, 2026
Business

LONDON — Anggota Lords Hijau Tolak Bayar Tagihan Limbah Thames Water Akibat Pencemaran

Di tengah hiruk pikuk kota London yang sibuk, seorang perempuan tua berusia 70-an duduk tenang di ruang kerjanya, menatap tumpukan surat ancaman dari perus

LONDON — Anggota Lords Hijau Tolak Bayar Tagihan Limbah Thames Water Akibat Pencemaran

Di tengah hiruk pikuk kota London yang sibuk, seorang perempuan tua berusia 70-an duduk tenang di ruang kerjanya, menatap tumpukan surat ancaman dari perusahaan air raksasa. Ia bukanlah seorang aktivis radikal atau pengacara lingkungan, melainkan Baroness Jenny Jones, anggota House of Lords dari Partai Hijau. Keputusannya untuk berhenti membayar komponen limbah dalam tagihan Thames Water telah menjadi simbol perlawanan warga biasa terhadap praktik bisnis yang merusak lingkungan.

“Saya akan membaca semua surat ancaman itu dengan tenang dan menunggu sidang pengadilan terhadap saya. Tapi saya akan mengambil sikap, bahkan jika pemerintah kita tidak mau,” kata Jones dalam kolom opini yang dimuat Guardian, September 2026. Sikapnya lahir setelah membaca laporan mengerikan: insiden pencemaran serius oleh perusahaan air Inggris naik 60 persen pada 2025, dengan Thames Water menjadi pelanggar terburuk.

Data Pencemaran yang Mencengangkan

Berdasarkan data Badan Lingkungan Inggris (Environment Agency), sepanjang tahun lalu tercatat 75 insiden pencemaran serius dari total 2.800 kejadian pencemaran air di seluruh Inggris. Thames Water memimpin daftar hitam tersebut, dengan puluhan kasus pembuangan limbah domestik dan industri langsung ke sungai-sungai utama seperti Thames, Lea, dan Roding. Padahal, perusahaan ini memasok air minum dan jasa sanitasi untuk 15 juta pelanggan di London dan Lembah Thames.

Yang lebih memilukan, 70 persen dari insiden pencemaran itu terjadi di daerah yang memiliki status konservasi tinggi, seperti cagar alam dan kawasan lindung. Air kotor yang mengandung bakteri E. coli, nitrat, dan fosfat mencemari ekosistem sungai, membunuh ikan, merusak habitat, dan membuat pantai-pantai populer tidak layak untuk berenang. “Rasanya seperti kita membayar mereka untuk meracuni lingkungan tempat tinggal kita,” tulis Jones dalam tulisannya.

Thames Water: Laba di Atas Lingkungan

Thames Water, yang dimiliki oleh konsorsium investor internasional, telah lama menjadi sasaran kritik. Meskipun melaporkan pendapatan tahunan sekitar £2,3 miliar pada 2025, perusahaan ini justru meningkatkan dividen untuk pemegang sahamnya. Sementara itu, infrastruktur pipa limbahnya sudah sangat tua, sering bocor, dan tidak mampu menampung volume air hujan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

“Living in London means that my supplier is Thames Water, which makes a profit out of pollution. I decided that if the government wouldn’t act, I could at least do my part and not pay for this travesty.” — Jenny Jones, Green party peer

Keputusan Jones untuk tidak membayar biaya limbah — yang biasanya sekitar 40-60 poundsterling per tahun untuk rumah tangga — mungkin tampak kecil. Namun, aksinya menginspirasi ribuan warga lainnya. Gerakan #StopPayingForPollution mulai menyebar di media sosial, dengan warga dari berbagai daerah melaporkan tagihan mereka yang tetap sama meski layanan air memburuk.

Kegagalan Regulasi dan Sikap Pemerintah

Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer sebelumnya telah berjanji untuk memperketat pengawasan terhadap perusahaan air. Namun, hingga pertengahan 2026, belum ada satu pun eksekutif Thames Water yang dihukum secara pidana. Denda yang dijatuhkan oleh Ofwat (regulator air) sering dianggap terlalu rendah, hanya setara dengan biaya operasional harian perusahaan.

Dalam tiga tahun terakhir, total denda yang dibayarkan Thames Water hanya sebesar £90 juta, sementara kerusakan lingkungan yang ditimbulkan diperkirakan mencapai miliaran pound. Para aktivis menilai, sistem denda itu justru menjadi “biaya bisnis” yang murah bagi perusahaan yang tidak bertanggung jawab.

Jones, yang sudah 25 tahun menjadi anggota Lords, mengaku kecewa dengan lambatnya respons pemerintah. “Saya tidak akan diam saja. Jika mereka tidak mau melindungi sungai dan pantai kita, maka saya sebagai individu harus mengambil tindakan,” tegasnya. Ia mengakui bahwa tindakannya bisa berujung pada tuntutan hukum perdata, namun ia siap menghadapi konsekuensinya.

Dampak Nyata Pencemaran Air di Inggris

Masalah pencemaran air bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga kesehatan publik. Dalam laporan terpisah, Royal Society of Medicine memperingatkan bahwa paparan bakteri dari air limbah dapat menyebabkan infeksi kulit, gangguan pernapasan, dan penyakit gastrointestinal. Pantai-pantai populer di Cornwall, Brighton, dan East Anglia sering ditutup selama musim panas karena kadar bakteri coliform yang tinggi.

Sepanjang tahun 2025, lebih dari 2.000 kilometer sungai di Inggris dinyatakan tidak layak untuk kegiatan rekreasi, termasuk memancing, berperahu, dan berenang. Ini merupakan rekor terburuk sejak Undang-Undang Air Bersih diberlakukan pada 1990-an. Sementara itu, Thames Water terus memompa limbah mentah ke Sungai Thames setiap kali hujan deras, karena sistem penampungannya sudah kewalahan.

Bagi Jones, aksinya adalah bagian dari gerakan warga yang lebih luas. “Saya hanya seorang pensiunan yang kebetulan duduk di Lords. Tapi jika saya bisa memulai sesuatu, maka ribuan orang lain juga bisa,” ujarnya. Ia berharap kasusnya dapat memicu perubahan kebijakan, termasuk pembentukan badan pengawas independen yang lebih kuat dan penerapan pajak polusi yang lebih keras.

Perlawanan dari Dalam Sistem

Meskipun usianya sudah lanjut, Jones tidak gentar menghadapi kemungkinan gugatan. Ia telah menyewa pengacara pro bono yang mengkhususkan diri dalam hukum lingkungan. “Saya akan menggunakan hak saya sebagai warga negara untuk menolak membayar layanan yang justru merusak lingkungan. Ini soal prinsip,” katanya.

Beberapa anggota parlemen dari Partai Hijau dan oposisi lainnya telah menyatakan dukungan. Bahkan, Menteri Lingkungan Hidup dalam pemerintahan bayangan, Steve Reed, menyebut tindakan Jones “berani dan tepat waktu.” Namun, pemerintah saat ini masih enggan mengubah regulasi secara fundamental karena khawatir akan menaikkan harga air bagi konsumen.

“Mereka bilang tidak ada uang untuk memperbaiki pipa,” tulis Jones di akhir tulisannya. “Tapi selalu ada uang untuk dividen, bonus eksekutif, dan kampanye PR. Saya lelah dengan kemunafikan ini.”

Kisah Jenny Jones adalah pengingat bahwa terkadang perubahan besar dimulai dari satu orang yang berani berkata “tidak”. Sementara sungai-sungai Inggris terus tercemar, setidaknya ada suara yang tidak mau diam. Dan suara itu, meski hanya satu, menggema di ruang-ruang kekuasaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User

Popular Posts

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll