Zara Larsson Kecam Gedung Putih Terkait Video Promosi Deportasi Imigran
Penyanyi pop asal Swedia, Zara Larsson, melontarkan kecaman keras terhadap pemerintahan Donald Trump setelah akun resmi Gedung Putih menggunakan lagunya un
Penyanyi pop asal Swedia, Zara Larsson, melontarkan kecaman keras terhadap pemerintahan Donald Trump setelah akun resmi Gedung Putih menggunakan lagunya untuk mempromosikan aksi deportasi massal. Lagu hit miliknya yang berjudul "Midnight Sun" disematkan sebagai audio latar dalam sebuah unggahan video di platform TikTok yang menampilkan operasi penangkapan imigran oleh aparat federal.
Insiden ini menambah panjang daftar musisi global yang menentang eksploitasi karya seni mereka demi kepentingan agenda politik sayap kanan di Amerika Serikat, khususnya terkait penindakan imigrasi oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Kronologi: Unggahan Kontroversial di Media Sosial
Penelusuran digital menunjukkan bagaimana audio musik pop digunakan untuk mengiringi penindakan hukum yang kontroversial terhadap kelompok migran di perbatasan:
- Publikasi Konten: Akun resmi Gedung Putih di TikTok mengunggah video kompilasi petugas ICE bersenjata lengkap yang memborgol dan menggiring para imigran menuju pesawat deportasi, disertai takarir provokatif: "Never ending deportations".
- Eksploitasi Musik: Video penindakan tersebut menggunakan latar lagu pop rancak milik Zara Larsson tanpa izin resmi maupun konsultasi dengan pihak manajemen sang artis.
- Eskalasi Publik: Unggahan tersebut langsung menuai jutaan penayangan dan memicu perdebatan panas di media sosial sebelum akhirnya direspons langsung oleh sang penyanyi.
Reaksi Tegas Zara Larsson: Tolak Kebijakan Dehumanisasi
Menanggapi video tersebut, Zara Larsson merilis pernyataan resmi melalui akun TikTok pribadinya. Dengan gestur membentuk huruf "L" di dahinya—simbol yang merujuk pada kata loser—musisi berusia 27 tahun itu tidak menutupi rasa muak dan kesedihannya melihat karyanya dipakai untuk menjustifikasi perlakuan represif terhadap manusia.
"Hati saya terasa sangat berat melihat video itu. Menggunakan karya saya untuk merayakan penderitaan orang-orang yang dideportasi dan diborgol adalah tindakan yang menjijikkan dari sekelompok pecundang," ujar Larsson dalam rekaman videonya.
Larsson secara terbuka menegaskan bahwa pesan dalam karya musiknya berakar pada kebebasan, cinta, dan kemanusiaan, yang bertolak belakang secara fundamental dengan retorika anti-imigran pemerintahan Trump.
Pola Berulang Pelanggaran Musik dalam Kampanye Politik
Penggunaan karya seni tanpa lisensi politik ini bukan merupakan kejadian pertama di bawah kepemimpinan Donald Trump. Praktik tersebut mencerminkan pola sistematis penggunaan materi berhak cipta untuk membangun narasi politik tanpa menghiraukan persetujuan pembuat karya:
- Sengketa Hak Cipta Musisi: Deretan artis kenamaan dunia seperti Céline Dion, Beyoncé, The Rolling Stones, hingga keluarga mendiang Sinéad O'Connor sebelumnya telah melayangkan somasi serta tuntutan hukum atas penyalahgunaan lagu mereka.
- Pelanggaran Norma Platform: Tindakan pemanfaatan audio komersial untuk konten penegakan hukum yang memuat narasi deportasi agresif dinilai sejumlah pakar melanggar pedoman etika digital dan hak moral artis.
- Polarisasi Imigrasi AS: Konten digital agresif ini sengaja diproduksi Gedung Putih guna memperkuat basis dukungan pemilih konservatif menjelang konsolidasi kebijakan pengetatan perbatasan skala nasional.
Hingga kini, pihak Gedung Putih belum memberikan klarifikasi resmi maupun mencabut penggunaan trek audio tersebut menyusul kecaman publik yang meluas.
Comments (0)