TEL AVIV — Israel mulai menggelar serangkaian peringatan pada Rabu (7/10/2025) untuk mengenang para korban serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 warga disandera. Peringatan tahun ini terasa berbeda: untuk pertama kalinya sejak serangan pecah, seluruh sandera — baik yang masih hidup maupun jenazah mereka — telah dipulangkan ke tanah air.
Tiga Tahun Konflik yang Mengubah Wajah Kawasan
Serangan 7 Oktober 2023 menandai eskalasi terparah dalam konflik Israel-Hamas. Ribuan roket ditembakkan ke wilayah Israel selatan, sementara para militan Hamas menembus pagar perbatasan dan menyerang kota-kota, kibbutzim, serta festival musik. Dalam hitungan jam, ribuan orang tewas dan ratusan warga sipil dibawa ke Jalur Gaza sebagai sandera.
Peristiwa itu memicu operasi militer besar-besaran Israel di Jalur Gaza yang berlangsung berbulan-bulan, menimbulkan korban jiwa masif di kedua belah pihak serta krisis kemanusiaan yang meluas. Selama tiga tahun terakhir, negosiasi sengit berlangsung di berbagai meja perundingan — didorong oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar — untuk membebaskan para sandera.
- 2023 — Serangan Hamas menewaskan 1.200 orang dan menculik 251 sandera; perang Gaza dimulai.
- 2024-2025 — Gelombang gencatan senjata parsial berhasil membebaskan sebagian sandera, baik melalui perundingan maupun operasi militer.
- 2025 — Gelombang terakhir pemulangan jenazah menutup babak tragis; seluruh sandera kembali ke Israel.
- 7 Oktober 2025 — Peringatan tiga tahun digelar, menjadi momen pertama tanpa sandera yang tertahan di Gaza.
Kembalinya Para Sandera Menutup Luka Terbuka
Pemulangan terakhir jenazah sandera menjadi momen emosional bagi masyarakat Israel. Selama bertahun-tahun, keluarga korban menggelar unjuk rasa rutin di depan kediaman perdana menteri, menuntut pemerintah mengutamakan pembebasan sandera di atas operasi militer. Kini, seluruh tuntutan itu secara teknis telah dipenuhi.
"Tidak ada satu pun warga Israel yang tertinggal di Gaza. Perjalanan panjang ini akhirnya selesai, meski luka kami belum sepenuhnya sembuh," ujar seorang pejabat keamanan Israel yang tidak disebutkan namanya.
Namun para analis menilai kedamaian belum sepenuhnya tercapai. Puluhan ribu warga Gaza dilaporkan tewas dalam perang, ribuan bangunan hancur, dan upaya rekonstruksi masih jauh dari kata selesai. Di sisi lain, keluarga korban Israel menuntut pertanggungjawaban politik atas kegagalan keamanan menjelang serangan 7 Oktober.
Gema Peringatan di Tengah Ketegangan Regional
Upacara peringatan digelar di berbagai kota Israel, dimulai dengan bunyi sirine selama satu menit sebagai tanda penghormatan. Para pemimpin politik dan militer menghadiri ziarah massal, sementara keluarga korban menggelar doa bersama di lokasi-lokasi yang menjadi saksi bisu serangan.
Ketegangan di kawasan masih membayangi peringatan ini. Kelompok-kelompok militer di Lebanon, Yaman, dan Suriah sempat dilaporkan meningkatkan aktivitasnya selama konflik berlangsung, membuat Israel mempertahankan kesiagaan pertahanan tingkat tinggi.
- 1.200 korban jiwa dalam serangan awal Hamas pada 2023.
- 251 sandera sempat diculik ke Jalur Gaza.
- 100% sandera kembali ke Israel untuk pertama kali pada peringatan ketiga.
- Ribuan warga Gaza juga menjadi korban perang yang berkepanjangan.
Bagi banyak warga Israel, peringatan tahun ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menimbang masa depan. Pertanyaan besar tetap terbuka: bagaimana memastikan tragedi serupa tidak terulang, dan apakah diplomasi mampu mencegah gelombang kekerasan berikutnya di kawasan yang masih dilanda luka.
Comments (0)