Nov 04, 2026
Business

LONDON — 105 Anggota Parlemen Desak Reformasi Cuti Ayah

Di tengah suasana politik Westminster yang kian menghangat, gelombang desakan terhadap pemerintah Inggris untuk merombak kebijakan cuti ayah (*statutory pa

LONDON — 105 Anggota Parlemen Desak Reformasi Cuti Ayah

Di tengah suasana politik Westminster yang kian menghangat, gelombang desakan terhadap pemerintah Inggris untuk merombak kebijakan cuti ayah (*statutory paternity leave*) mencapai titik krusial. Lebih dari seperempat anggota parlemen Partai Buruh telah menyatukan suara, menuntut langkah nyata untuk memperkuat jaminan finansial bagi para ayah baru di seluruh negeri. Langkah ini mengemuka di tengah himpitan krisis biaya hidup yang secara tidak proporsional memukul keluarga kelas pekerja.

Sebanyak 105 anggota parlemen telah menandatangani surat bersama yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan politik menjelang penyampaian anggaran nasional bulan depan. Dalam dokumen berbobot politik tinggi tersebut, para legislator menegaskan bahwa perbaikan skema cuti ayah bukan lagi sekadar opsi kebijakan sosial, melainkan sebuah keharusan ekonomi yang mendesak untuk menyelamatkan ketahanan finansial keluarga berpenghasilan rendah.

Investigasi mendalam menunjukkan bahwa skema cuti ayah berbayar di Inggris saat ini termasuk salah satu yang paling minim di antara negara-negara maju. Kondisi ini membuat para ayah dari kelompok masyarakat bawah berada dalam posisi yang paling rentan. Banyak dari mereka terpaksa merelakan masa-masa awal kelahiran sang buah hati dan kembali bekerja lebih cepat karena tidak mampu menanggung penurunan pendapatan yang drastis.

Ketimpangan Ekonomi dalam Pengasuhan Awal

Krisis biaya hidup yang membendung daya beli masyarakat Inggris memperparah dampak ketimpangan ini. Bagi keluarga mapan, mengambil cuti tambahan tanpa bayaran mungkin masih terjangkau. Namun bagi pekerja berupah minimum, pemotongan gaji selama masa cuti ayah berarti kegagalan dalam membayar tagihan energi, sewa rumah, hingga kebutuhan dasar bayi baru lahir.

"Sistem cuti ayah saat ini secara tidak langsung menghukum para ayah berpenghasilan rendah. Mereka dihadapkan pada pilihan yang mustahil: mendampingi istri dan bayi mereka yang baru lahir, atau memastikan ada makanan di meja makan," ungkap salah satu anggota parlemen yang menandatangani surat desakan tersebut.

Perbandingan jaminan cuti ayah di Inggris dengan beberapa negara tetangga di Eropa memperlihatkan ketertinggalan yang cukup signifikan dalam perlindungan sosial pengasuhan:

Negara Durasi Cuti Ayah Standar Tingkat Penggantian Gaji
Inggris (Saat Ini) 2 Minggu Tarif Flat Minimum (Sangat Rendah)
Spanyol 16 Minggu 100% dari Gaji Penuh
Swedia 90 Hari (Alokasi Khusus) Sekitar 80% dari Gaji Penuh
Usulan Reformasi UK Minimal 4-6 Minggu Peningkatan Signifikan Berbasis Persentase Gaji

Tekanan Politik Menjelang Anggaran Baru

Tekanan publik dan internal ini menempatkan para pembuat kebijakan, termasuk figur berpengaruh seperti Andy Burnham dan jajaran menteri keuangan, dalam ujian berat. Di satu sisi, pemerintah dituntut untuk menjaga disiplin anggaran negara yang rapuh. Di sisi lain, desakan dari 105 anggota parlemen ini mencerminkan keresahan akar rumput yang sudah tidak bisa diabaikan.

Para analis kebijakan publik menilai bahwa investasi pada cuti ayah yang lebih baik justru akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi perekonomian. Dukungan yang memadai pada minggu-minggu pertama kelahiran terbukti meningkatkan partisipasi perempuan di pasar kerja dan mengurangi risiko gangguan kesehatan mental pada orang tua baru yang memicu beban biaya kesehatan publik.

"Jika pemerintah mengabaikan seruan reformasi ini dalam anggaran bulan depan, hal itu akan ditangkap sebagai sinyal kegagalan dalam melindungi kaum pekerja di masa krisis," tegas seorang pengamat senior politik domestik Inggris.

Kini, seluruh mata tertuju pada pengumuman anggaran mendatang. Keputusan yang diambil tidak hanya akan menjadi tolok ukur komitmen sosial pemerintah, tetapi juga menentukan masa depan kesejahteraan jutaan keluarga baru di Britania Raya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User

Recommended Posts

Popular Tags

Voting Poll