Kabar buruk datang dari industri kesehatan dan kebugaran Inggris. Triyoga, jaringan studio yoga yang pernah dijuluki "groundbreaking" dan menjadi langganan selebritas papan atas, secara mendadak menghentikan seluruh operasinya. Keputusan itu meninggalkan luka mendalam bagi para guru dan pelanggan yang sama sekali tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya.
Di balik gemerlap kelas-kelas premium yang pernah dihadiri bintang film dan musisi internasional, ratusan pekerja kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: upah yang tak pernah cair, komunikasi yang terputus, dan masa depan yang mendadak gelap.
Kate Comer dan Luka yang Tak Terlihat
Kate Comer bukan nama besar. Ia seorang ibu tunggal dengan dua anak yang sudah terbiasa hidup di tepi jurang finansial. Namun ketika studio tempatnya mengajar tutup tanpa peringatan pada September lalu, guncangan itu terasa jauh lebih brutal dari biasanya.
"Saya benar-benar terpuruk saat ini. Saya sangat khawatir tentang masa depan," ujarnya dengan suara bergetar.
Comer memperkirakan kerugiannya mencapai sekitar £1.500 atau setara puluhan juta rupiah—setara dua bulan gaji yang seharusnya ia terima. Angka itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi seorang ibu tunggal, itu adalah selisih antara bisa membayar sewa atau tidak.
Bailiff, Utang, dan Rantai Kehancuran
Yang membuat situasi semakin rumit, sejumlah kreditor dilaporkan telah mengirim bailiff—petugas penagih utang resmi—ke lokasi-lokasi yang sebelumnya menjadi studio Triyoga. Pemandangan ini kontras tajam dengan citra mewah yang dulu dibangun perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah guru yang terdampak gaji tak dibayar dilaporkan menembus 100 orang. Mereka tersebar di berbagai cabang, dari kawasan elit London hingga lokasi strategis lainnya. Tidak ada satu pun yang menerima penjelasan resmi mengenai status pekerjaan atau hak mereka.
| Aspek | Kondisi Sebelum | Kondisi Setelah Kolaps |
|---|---|---|
| Citra publik | Studio favorit selebritas A-list | Nama tercoreng, kepercayaan runtuh |
| Guru yoga | Ratusan pengajar aktif | Lebih dari 100 orang tak dibayar |
| Operasional | Jaringan cabang mapan | Berhenti total tanpa peringatan |
Ketika Kesehatan Mental Jadi Korban
Dampak kolapsnya Triyoga tidak berhenti pada persoalan finansial. Tekanan psikologis yang dialami para guru—terutama mereka yang berstatus orang tua tunggal—menjadi persoalan serius yang luput dari sorotan.
"Saya tidak hanya kehilangan penghasilan, saya kehilangan rasa aman," tambah Comer.
Para pengajar kini menuntut kejelasan hukum. Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah perusahaan yang sempat disebut "groundbreaking" bisa runtuh begitu cepat tanpa mekanisme perlindungan bagi pekerjanya. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari manajemen Triyoga.
Kasus ini menjadi pengingat getir bahwa di balik estetika kelas atas dan pencitraan selebritas, industri wellness bisa menyimpan kerentanan struktural yang menghancurkan hidup orang-orang di garis depan.
Comments (0)