Di Runstraat, salah satu gang paling eksklusif di Amsterdam, antrean pengunjung Fabel Friet kini meliuk melintasi jembatan di Keizersgracht — salah satu kanal ikonik kota itu. Warga sekitar menggambarkan pemandangan yang nyaris tak pernah surut tujuh hari seminggu: wisatawan berdesakan di gang sempit, sampai berserakan, camar berkeliaran, hingga tikus mulai muncul di sudut-sudut rumah. Kini, sengketa yang semula hanya dikeluhkan lewat grup RT itu berujung ke ruang sidang.
Kota Kecil, Panggung Raksasa di TikTok
Fabel Friet memang bukan kedai kentang biasa. Rekaman antrean panjang, porsi besar, dan sajian yang fotogenik membuatnya menjadi viral di TikTok, menarik pengunjung dari luar kota bahkan luar negeri. Masalahnya, Runstraat bukan bulevar selebar enam puluh meter, melainkan gang berbatu dengan lebar yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan sambil membawa keranjang belanja.
Warga menilai pemasangan izin usaha oleh pemerintah kota tidak memperhitungkan dampak lalu lintas pejalan kaki. "Kami bukan menentang bisnis siapa pun, tetapi kota seharusnya menghitung berapa orang yang sanggup ditampung jalan ini sebelum izin diterbitkan," ujar seorang warga Runstraat yang menjadi penggugat, saat ditemui di sela persidangan.
"Ini seperti berperang diam-diam. Kami tidak bisa membuka jendela tanpa mendengar teriakan pemasangan pesanan, dan setiap malam selalu ada sisa makanan yang menarik hama."
Gugatan yang Diangkat ke Pengadilan
Gugatan diajukan karena satu isu utama: pemberian izin oleh kota dianggap tidak memperhitungkan gangguan yang sudah diprediksi sejak awal. Para penggugat menyebut tiga keluhan berulang yang kini menjadi bukti di persidangan:
- Kepadatan pejalan kaki — antrean menyeberangi jembatan Keizersgracht pada hari sibuk;
- Kebersihan lingkungan — sampah makanan menimbulkan bau dan memicu datangnya tikus;
- Binatang liar — camar berkeliaran di atap dan langkan rumah, menunggu waktu untuk menyambar.
| Keluhan Warga | Lokasi | Kondisi |
|---|---|---|
| Antrean memadati gang | Runstraat | Tujuh hari seminggu |
| Sampah & bau | Pintu dan lorong rumah | Berulang tiap malam |
| Camar dan hama | Kanal Keizersgracht | Meningkat signifikan |
Sisi Kedai Kentang
Pihak Fabel Friet membantah bahwa operasional mereka merugikan lingkungan. Kedai menyatakan sudah menempatkan petugas kebersihan, membatasi kapasitas layanan pada jam sibuk, dan berkontribusi pada ekonomi lokal. "Kami memberi pekerjaan dan membayar pajak; yang dibutuhkan adalah solusi bersama, bukan penutupan," kilah kuasa hukum kedai.
"Menutup kedai bukan jawaban. Yang kami usulkan adalah sistem antrean terorganisir dan pembatasan jumlah pengunjung pada jam tertentu."
Dilema Kota Wisata Global
Kasus ini mencerminkan tekanan besar yang dialami Amsterdam sebagai kota wisata global. Pemerintah kota selama ini berupaya menekan dampak overtourisme, tetapi izin usaha yang menarik kerumunan justru dianggap bertentangan dengan semangat tersebut. Di tengah persidangan, satu pertanyaan mengemuka: sampai kapan warga berhak atas ketenangan rumahnya sendiri, dan sampai kapan kota bersedia mengorbankannya demi citra sebagai kota terbuka?
Pengadilan kini mempertimbangkan apakah izin Fabel Friet layak dicabut atau disyaratkan ulang. Putusannya bisa menjadi preseden penting bagi ratusan usaha kuliner viral lainnya di seluruh Eropa — dan bagi warga yang selama ini merasa kota mereka perlahan berubah menjadi panggung wisata tanpa ruang privat.
Comments (0)